Tampilkan postingan dengan label Ngobrol. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Ngobrol. Tampilkan semua postingan

Gulai siput / gulai langkitang



Bagi traveller atau shopper yang suka melewati bunderan mesjid muhammadiyah pasar raya padang pasti tau dengan para pedagang kaki lima yang menjual gulai langkitang atau ada juga yang menyebut dengan gulai cipuik / siput. 
Gulai tersebut dipajang dalam gelas belimbing yang dibandrol dengan harga empat sampai enam ribu rupiah per gelas. 
Selain rasa yang enak ada keunikan cara menyantapnya yaitu diisap sampai daging siput keluar dari cangkangnya :) Nah bedanya kalau di rumah saya di payakumbuh untuk menghilangkan bau amis siput ini selain dengan membersihkan cangkangnya sampai licin juga dengan tambahan pucuk daun surian. Sehingga menghasilkan wangi khas tersendiri ^_^

Rendang Belut


Rendang Belut merupakan rendang khas kabupaten 50 kota di Sumatera Barat. Setahu saya rendang ini juga ada di kabupaten Tanah Datar dan Agam. Bedanya dengan rendang daging pada umumnya adalah dedaunan yang juga dijadikan sebagai bumbu banyak sekali macamnya. Malahan ada rumor  kalau untuk acara adat jaman dahulu bisa menggunakan 100 macam daun :D Kalau neneknya anak-anak bilang macam-macam daun semak (maksudnya daun-daun  yang hanya bisa ditemui di hutan daerah tertentu seperti daun surian, daun puring, daun asam kasambi, dan daun ruku-ruku. Sehingga dedaunan inilah yang menjadikan aroma khas rendang belut. Belut yang digunakan ada yang diasap terlebih dahulu dan ada pula yang langsung dimasukkan dalam keadaan masih segar.

Soal resepnya nanti saya publish di posting berikutnya ya Bu-ibuuuu ^_^

Selera terbaik, milik siapa?


Selera terbaik milik siapa? Jawabannya pasti macem-macem, bagi urang Sunda tah udah pasti oge masakan Sunda :) begitu juga bagi orang Tegal, Madura, Makassar, Bali, Ambon, dll. Menurut saya selera seseorang paling bergantung kepada masakan Ibunya di rumah, sejauh-jauh atau selama apapun ia merantau pasti pernah kangen dengan masakan Ibu sendiri ^_^ just like me hehehe..

Jadi tidaklah penting memperdebatkan masakan siapa yang paling enak, berkualitas, ternama, bergengsi, dsb yang terpenting adalah mensyukuri anugerah keberagaman kuliner Indonesia itu sendiri. Lidah saja mampu bertoleransi menyicipi ribuan jenis masakan baru yang belum pernah dicobanya, semestinya kita juga menghargai, turut memberikan apresiasi jika ada orang lain memasakkan jenis makanan yang belum pernah kita dengar namanya atau mencoba rasanya. Saya jadi ingat suatu kali mampir ke rumah seorang teman yang campuran Cina, Jawa, Sunda, tak hanya toleransi masalah selera makan, dalam hal lainpun seperti kebiasaan sehari-hari yang amat sangat dipermasalahkan oleh sebagian orang, yah pokoknya hal-hal yang menjurus ke masalah SARA. Saya kagum, di tengah kemajemukan latar belakang tapi masih tetap kompak! Jadi.. selera terbaik milik siapa? Yaitu milik orang-orang yang mempunyai jiwa toleransi tinggi termasuk menghargai sebuah masakan yang baru saja dicicipinya dengan senyum pujian, yang koki masak pun juga jadi seneng :)